Feeds:
Posts
Comments

makanan anak

Balita Anda susah makan?

Jangan emosi. Berpikirlah dengan tenang dan aturlah strategi

 

1. Bagi ibu yang bekerja, luangkan waktu sebentar saja tetapi berkualitas untuk menyuapi anaknya. sebenarnya anak-anak sangat mengerti bila ibunya bekerja.

 

2. Berikanlah kepuasan psikis kepada anak yang sesuai dengan usianya, dan buatlah agar suasana hatinya senang, misalnya anak makan sambil jalan-jalan, melihat kereta api, dan lain-lain. Problem utama anak susah makan itu 6 bulan sampai 2 tahun. ”Asal usia itu terlewati dengan bagus, Insya Allah ke depannya tidak ada masalah

 

3. Pada saat orang tua baik ibu maupun ayahnya pulang kerja, pertama kali yang harus dipegang atau disapa adalah anaknya. bukan yang lain.

 

4. Jangan memaksa anak makan sampai mencekoki, mencubit atau bahkan memelototi. Bagaimana bila anak tidak mau sayur, tahu-tempe, dan makanan bergizi lainnya? sebaiknya anak ‘dilaparkan’ dulu. ”Tetapi, kita siapkan makanan yang sudah kita programkan, nanti berangsur-angsur dia akan mau, tetapi memang perlu telaten, disiplin.”,

5. Sebaiknya sedini mungkin kita menerapkan penghargaan dan hukuman yang edukatif. Misalnya, pada waktu anak mau makan dipuji, diajak jalan-jalan, ciuman, pelukan. Bila tidak mau makan, katakan, misalnya, ibu atau ayah tidak mau lihat televisi bersama-sama, tidak mau jalan-jalan lagi.

 

6. Pada anak berusia setelah empat bulan-enam bulan, baik diberi bubur instan asalkan anak tak alergi susu. Setelah anak berusia enam bulan, lebih bagus membuat bubur sendiri, karena ada macam-macam pilihan sayuran dan lauk-pauk yang bisa mengurangi kejenuhan rasa. Misalnya, hati dengan bayam, kemudian wortel dengan tempe, kangkung dengan tahu, dan sebagainya. Namun, bila dengan makanan tersebut anak mengalami diare atau muntah maka menu harus dievaluasi.

 

7. Pada saat bayi mengalami perubahan makanan seperti enam bulan, sembilan bulan satu tahun, dia akan merasa-rasakan karena rasanya aneh sehingga kadang dimain-mainkan seperti dimuntahkan, ini harus dimasukkan lagi. Prinsipnya bila makanan tersebut dimuntahkan, harus sedikit-sedikit dan makanannya harus lebih cair lagi.

 

8. Pada kasus anak yang mengalami gangguan psikis yang manifestasinya pada lambung dengan muntah bisa teratasi kira-kira setelah tiga tahun. Tetapi, kasus seperti itu jarang dan tidak menjadi masalah asal kebutuhan gizi, kalori, lemak, proteinnya tercukupi.

 (sumber:republika.co.id)

my life

10 Alasan Harus Senyum

Senyum mungkin kita anggap adalah hal yang sederhana dan mudah, cukup menarik sudut bibir ke arah samping dan menampakkan gigi. Namun tidak sesederhana itu, kadang tersenyum saat-saat tertentu sangatlah sulit, terlebih jika kita  tidak “mood” untuk senyum.

Senyum dihubungkan dengan karakter seseorang, karena tidak sedikit ditemukan sifat individu yang “murah senyum”. Senyum banyak dikaitkan dengan perasaan hati, kondisi jiwa dan mood. Senyum dapat mempengaruhi kesehatan, tingkat stres dan daya tarik kita dan sebagai salah satu jalan jika ingin awet muda.

 

Manfaat Senyum untuk kesehatan, di antaranya :

1. Senyum membuat anda lebih menarik. Kita akan selalu tertarik pada orang yang selalu tersenyum. Orang yang selalu tersenyum punya daya tarik tersendiri. Wajah yang berkerut, cemberut, membuat orang menjauh dari anda, tetapi sebaliknya senyum bisa membuat mereka tertarik.

2. Senyum mengubah mood kita. Ketika kita merasa jatuh atau “down” cobalah untuk tersenyum. Mungkin saja mood kita akan berubah menjadi lebih baik.

3. Senyum dapat merangsang orang lain tersenyum. Ketika seseorang tersenyum maka senyum tersebut akan membuat suasana menjadi lebih cerah, mengubah mood orang lain yang ada disekitarnya dan membuat semua orang menjadi senang. Orang yang suka tersenyum membawa kebahagiaan buat orang yang ada di sekitarnya. Seringlah tersenyum maka kita akan disukai oleh banyak orang.
4. Senyum dapat mengurangi stres. Stres secara nyata dapat muncul di wajah kita. Senyum membantu mencegah kesan bahwa kita sebenarnya sedang lelah atau merasa “down”. Jika kita sedang stres cobalah untuk tersenyum, maka stres kita akan berkurang dan akan merasa lebih baik untuk membuat langkah selanjutnya.

5. Senyum meningkatkan sistem imun (kekebalan) tubuh kita. Senyum dapat membantu kerja imun tubuh agar dapat bekerja dengan baik. Ketika tersenyum, fungsi imun meningkatkan kemungkinan menjadi lebih rileks.

6. Senyum menurunkan tekanan darah. Ketika tersenyum, maka tekanan darah kita akan menurun. Jika tak percaya, boleh mencobanya sendiri, dan ukur tekanan darah anda.

7. Senyum mengeluarkan endorphins (pereda rasa sakit secara alami) dan serotonin. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa senyum dapat merangsang pengeluaran endorphin, pereda rasa sakit yang alami, serta serotonin. Senyum memang obat yang alami.

8. Senyum dapat melenturkan kulit wajah dan membuat kita terlihat lebih muda. Otot-otot yang digunakan untuk tersenyum ikut membuat kita terlihat lebih muda. Jika kita ingin sesuatu yang beda, maka berikan senyum sepanjang hari, maka akan terlihat lebih muda dan merasa lebih baik.

9. Senyum membuat kita tampak sukses. Orang yang tersenyum terlihat lebih percaya diri dalam menjalani hidupnya. Cobalah tersenyum saat melakukan pertemuan dan saat ada janji. Rekan-rekan kerja, sahabat, orang-orang terdekat akan merasakan sesuatu yang berbeda.

 

10. Senyum membuat kita tetap positif. Senyumlah! Lalu sekarang cobalah berpikir sesuatu yang negatif tanpa berhenti tersenyum. Sulitkan? Karena ketika kita tersenyum maka senyum tersebut akan mengirimkan sinyal ke tubuh kita bahwa “hidup kita saat ini baik-baik saja”.

Maka jauhkan diri dari depresi, stres dan rasa khawatir dengan satu kata yaitu “senyum”, tentu saja dengan memberikan senyum pada tempat dan suasana yang tepat. Jika berlebihan, maka orang lain akan menganggap anda kurang waras.

Sudahkan anda tersenyum hari ini?

 

 

Perilaku

10 Alasan Harus Senyum

Senyum mungkin kita anggap adalah hal yang sederhana dan mudah, cukup menarik sudut bibir ke arah samping dan menampakkan gigi. Namun tidak sesederhana itu, kadang tersenyum saat-saat tertentu sangatlah sulit, terlebih jika kita  tidak “mood” untuk senyum.

Senyum dihubungkan dengan karakter seseorang, karena tidak sedikit ditemukan sifat individu yang “murah senyum”. Senyum banyak dikaitkan dengan perasaan hati, kondisi jiwa dan mood. Senyum dapat mempengaruhi kesehatan, tingkat stres dan daya tarik kita dan sebagai salah satu jalan jika ingin awet muda.

 

Manfaat Senyum untuk kesehatan, di antaranya :

1. Senyum membuat anda lebih menarik. Kita akan selalu tertarik pada orang yang selalu tersenyum. Orang yang selalu tersenyum punya daya tarik tersendiri. Wajah yang berkerut, cemberut, membuat orang menjauh dari anda, tetapi sebaliknya senyum bisa membuat mereka tertarik.

2. Senyum mengubah mood kita. Ketika kita merasa jatuh atau “down” cobalah untuk tersenyum. Mungkin saja mood kita akan berubah menjadi lebih baik.

3. Senyum dapat merangsang orang lain tersenyum. Ketika seseorang tersenyum maka senyum tersebut akan membuat suasana menjadi lebih cerah, mengubah mood orang lain yang ada disekitarnya dan membuat semua orang menjadi senang. Orang yang suka tersenyum membawa kebahagiaan buat orang yang ada di sekitarnya. Seringlah tersenyum maka kita akan disukai oleh banyak orang.
4. Senyum dapat mengurangi stres. Stres secara nyata dapat muncul di wajah kita. Senyum membantu mencegah kesan bahwa kita sebenarnya sedang lelah atau merasa “down”. Jika kita sedang stres cobalah untuk tersenyum, maka stres kita akan berkurang dan akan merasa lebih baik untuk membuat langkah selanjutnya.

5. Senyum meningkatkan sistem imun (kekebalan) tubuh kita. Senyum dapat membantu kerja imun tubuh agar dapat bekerja dengan baik. Ketika tersenyum, fungsi imun meningkatkan kemungkinan menjadi lebih rileks.

6. Senyum menurunkan tekanan darah. Ketika tersenyum, maka tekanan darah kita akan menurun. Jika tak percaya, boleh mencobanya sendiri, dan ukur tekanan darah anda.

7. Senyum mengeluarkan endorphins (pereda rasa sakit secara alami) dan serotonin. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa senyum dapat merangsang pengeluaran endorphin, pereda rasa sakit yang alami, serta serotonin. Senyum memang obat yang alami.

8. Senyum dapat melenturkan kulit wajah dan membuat kita terlihat lebih muda. Otot-otot yang digunakan untuk tersenyum ikut membuat kita terlihat lebih muda. Jika kita ingin sesuatu yang beda, maka berikan senyum sepanjang hari, maka akan terlihat lebih muda dan merasa lebih baik.

9. Senyum membuat kita tampak sukses. Orang yang tersenyum terlihat lebih percaya diri dalam menjalani hidupnya. Cobalah tersenyum saat melakukan pertemuan dan saat ada janji. Rekan-rekan kerja, sahabat, orang-orang terdekat akan merasakan sesuatu yang berbeda.

 

10. Senyum membuat kita tetap positif. Senyumlah! Lalu sekarang cobalah berpikir sesuatu yang negatif tanpa berhenti tersenyum. Sulitkan? Karena ketika kita tersenyum maka senyum tersebut akan mengirimkan sinyal ke tubuh kita bahwa “hidup kita saat ini baik-baik saja”.

Maka jauhkan diri dari depresi, stres dan rasa khawatir dengan satu kata yaitu “senyum”, tentu saja dengan memberikan senyum pada tempat dan suasana yang tepat. Jika berlebihan, maka orang lain akan menganggap anda kurang waras.

Sudahkan anda tersenyum hari ini?

 

PENELITIAN

PELATIHAN TERHADAP SUAMI UNTUK MENDUKUNG  ISTRI

DALAM MASA KEHAMILAN DAN  PERSALINAN

AmniKahar & Lina Rahmiati

 

 

  1. A.       PENDAHULUAN
  2. 1.      Latar Belakang

Masa kehamilan merupakan masa terjadinya perubahan-perubahan besar baik fisik maupun psikologis seorang perempuan. Untuk mendapatkan keseimbangan tersebut, ibu hamil diharapkan dapat menjaga tubuh agar tetap sehat, mencari ahli kesehatan yang akan mendukung dalam masa kehamilan ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang baik bagi bayi, mulai ketika masih berada didalam kandungan maupun sesudah lahir (1)

Pengetahuan suami tentang perannya dalam persalinan hanya 43,5%. Kepercayaan, budaya dan agama yang menjadi tantangan dalam pelaksanaan program tersebut akan dapat diatasi dengan dukungan dan keterlibatan tokoh masyarakat dan agama (2).  Dalam masa kehamilan, suami dapat mendukung istri agar mendapatkan pelayanan antenatal yang baik, menyediakan transportasi atau dana untuk biaya konsultasi, suami seharusnya menemani istrinya berkonsultasi, sehingga suami juga dapat mengenai gejala, tanda-tanda komplikasi kehamilan serta kebutuhan istrinya.

Untuk meningkatkan peran suami dalam kesehatan yaitu membekali suami dengan informasi yang benar dan mengikutsertakan dalam setiap upaya peningkatan kesehatan, suami merupakan partner untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. Dukungan dan peran serta suami dalam masa kehamilan terbukti meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam menghadapi proses persalinan, bahkan juga memicu produksi ASI, secara tidak langsung akan memberi manfaat emosional yang dapat menambah kekuatan istri dalam melawan rasa takut dan cemas sehingga proses persalinan pada kala II dapat berjalan lebih cepat (3).

Hasil penelitian di Iran menunjukkan bahwa sebagian besar ibu bersalin (88,4 %) dan para suami sebesar 82,1 % menginginkan suami mendampingi saat bersalin karena dapat mengurangi intensitas nyeri yang dirasakan ibu akibat kontraksi uterus (4) dan 52,5 % ibu hamil menghadapi kelahiran anak pertama berada pada kategori kecemasan rendah  jika suami memberikan dukungan saat bersalin (5). Kejadian depresi postpartum pada kelompok ibu bersalain yang tidak didampingi suami sebesar 15,6 %, jika didampingi suami hanya 1,3 % (6). Suami perlu mempunyai pengetahuan dan keterampilan apa yang harus dilakukan dalam memberikan dukungan tersebut, hal ini bisa didapat melalui penyuluhan atau pendidikan.

Berdasarkan hal tersebut di atas penulis ingin meneliti pengaruh pendidikan terhadap suami untuk mendukung istri dalam masa kehamilan dan proses persalinan                                                                                             

2. Perumusan Masalah

Bagaimanakah pengaruh pendidikan terhadap suami untuk mendukung istri dalam masa kehamilan dan proses persalinan

3. Tujuan Penelitian

      A. Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh pendidikan terhadap suami untuk mendukung istri dalam masa kehamilan dan proses persalinan

      B. Tujuan Khusus          

  1. Diketahuinya pengetahuan suami tentang dukungan dalam masa kehamilan dan persalinan
  2. Diketahuinya pengaruh pendidikan  dukungan suami  terhadap istri dalam masa kehamilan dan persalinan.
  3. Diketahuinya hubungan dukungan suami dengan lama persalinan

 

4. Manfaat penelitian

a. Bagi Suami.

Sebagai bahan masukan agar suami dapat memberikan dukungan kepada istri        selama masa kehamilan dan persalinan, juga untuk kehamilan berikutnya

b. Bagi Institusi Pelayanan

Sebagai bahan masukan bagi pengambil kebijakan untuk memfasilitasi      keikutsertaan suami mendampingi istri dalam masa kehamilan dan persalinan.

 

 

B. METODOLOGI PENELITIAN

 

1.  Kerangka Konsep

Variable independen                                 Variable antara              variable dependen

Pendidikan tentang Dukungan suami

dalam kehamilan dan persalinan

Mendukung

Lama Persalinan

kala II

Tidak Mendukung

Tanpa Pendidikan tentang Dukungan suami

dalam kehamilan dan persalinan

 

 

 

2. Hipotesa

a.  Semakin baik pengetahuan suami, semakin tinggi dukungan pada istri dalam masa

kehamilan dan persalinan

b. Semakin tinggi dukungan pada istri dalam masa kehamilan dan persalinan   semakin lancar proses persalinan

3. Definisi Operasional

Variabel

Definisi

Alat ukur

Cara ukur

Hasil ukur

Skala ukur

Variabel Independen

Pendidikan  kesehatan

Sejumlah materi dan keterampilan yang diberikan  kepada suami tentang dukungan terhadap istri dalam masa kehamilan dan persalinan

Kuesioner

Pre test dan post test

Baik bila jumlah nilai diatas rata-rata

 

Kurang  bila jumlah nilai dibawah atau sama dengan rata-rata

 

OrdinalV. Antara

 

Dukungan dalam kehamilan

Dukungan dalam persalinan

Dukungan yang diberikan pada masa kehamilan

 

Dukungan yang diberikan pada saat persalinan

 

Pedoman Wawanca ra

 

Pedoman ObservasiWawan cara

Observasi

Mendukung

Bila suami melakukan pernyataan

diatas rata-rata

Tidak mendukung

Bila suami melakukan pernyataan dibawah atau sama dengan rata-rata

OrdinalLama persalinan

Lama waktu persalinan yang dialami ibu pada saat melahirkan kala  II

Pedoman ObservasiWaktu yang ditem puh dalam menit<  1 jam

 

> 1 jamOrdinal

Counfonding factor dalam penelitian ini adalah anak besar dengan berat badan lahir lebih atau sama 4000 gram, Haemoglobin kurang dari 8 gram %

4. Desain  Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan Quasi Eksperimen Design dengan melakukan pre test dan post test masing-masing selama 15 menit, untuk mengetahui tingkat pengetahuan suami tentang dukungan terhadap istri selama masa kehamilan dan persalinan baik secara fisik, psikologis dan finansial.

5. Populasi dan Sample

a.  Populasi dalam penelitian ini adalah suami ibu hamil yang memeriksakan   kehamilan dan melahirkan di Wilayah kerja  Puskesmas Kota Bandung

b.  Sampel dalam penelitian ini adalah suami ibu hamil yang pertama kali, dengan kriteria : suami dengan pendidikan dan umur yang setara, usia kehamilan istri 26 sd. 32 minggu, anak pertama, umur istri 20 sampai 35 tahun, budaya mengizinkan suami untuk mendampingi. Jumlah Sampel yang digunakan dalam penelitian ini pada kelompok yang diintervensi dan pada kelompok yang tidak di intervensi masing-masing 21 pasang dengan rumus :

Teknik pengambilan sample baik yang kontrol maupun intervensi yaitu dengan cara kuota sampling sesuai dengan kriteria  yang sudah ditentukan.

6. Tempat dan Waktu

Tempat  penelitian Puskesmas Kiara Condong dan Garuda dengan   pertimbangan kedua puskesmas tersebut berada di Kota Bandung Barat dan Timur, merupakan PKM dengan tampat perawatan, dan memungkinkan suami bisa masuk keruang bersalin serta kasus persalinan anak pertama memungkinkan, waktu penelitian dilakukan mulai pertengahan bulan Mei sampai dengan bulan Oktober 2009

7. Jenis dan Cara pengumpulan data

Data dikumpulkan dari suami yang akan mengikuti pendidikan dengan sejumlah pertanyaan tentang kehamilan dan persalinan serta perubahan – perubahan yang terjadi dalam masa hamil, serta dukungan dalam masa hamil dan bersalin dengan kriteria  yang telah ditentukan pada sampel dalam bentuk pre test sebelum pendidikan dimulai, kemudian setelah pendidikan diberikan post test dengan pertanyaan yang sama. Selanjutnya diikuti pada saat seminggu sebelum persalinan dan dilakukan wawancara kepada istri.

8. Pengolahan  dan Analisa Data

Untuk nilai pengetahuan dibandingkan antara pre test dan post test pada kelompok intervensi, selanjutnya  data suami yang mendukung dalam masa kehamilan didapatkan melalui wawancara  pada istri dan dukungan dalam masa persalinan dilakukan observasi  pada suami.  Analisis data untuk mengetahui peningkatan pengetahuan suami tentang dukungan kepada istri dalam masa kehamilan dan persalinan menggunakan analisis biivariat  dengan uji t test. Untuk mengetahui hubungan  antara dukungan dengan lama persalinan dilakukan uji Chi Square

 

C. HASIL PENELITIAN

  1. Karakteristik responden , Usia (rata-rata) suami 26 tahun dan istri 23 tahun, pendidikan (rata-rata) suami SMA dan istri SMP, pekerjaan suami sebagian besar swasta dan wiraswasta dan istri sebagian besar ibu rumah tangga .
  1. Pengetahuan suami

Hasil nilai pretest pengetahuan suami tentang kehamilan dan persalinan pada kedua kelompok tidak terdapat perbedaan yang bermakna (kelompok intervensi 58,50 dan kelompok kontrol 58,64) sedangkan nilai posttest pada kelompok intervensi terlihat peningkatan menjadi rata-rata 87,00       (p < 0,05)

Pengetahuan seseorang sangat dipengaruhi oleh informasi  yang disampaikan atau disadari oleh seseorang, pengetahuan adalah sekumpulan informasi yang difahami dan diperoleh dari proses belajar pendidikan tidak terlepas dari proses belajar.

  1. 3.      Dukungan suami pada masa kehamilan dan persalinan

Responden yang mendukung pada masa kehamilan pada kelompok intervensi sejumlah 20 responden (90,9%) sedangkan pada kelompok kontrol hanya 7 responden (31,8 %), sedangkan yang mendukung pada saat persalinan kelompok intervensi sejumlah 17 responden (77,3 %) dan kelompok kontrol hanya 4 responden (18,2 %).

Penerimaan terhadap kehamilan pada 3 bulan pertama kebanyakan ibu bingung, lebih kurang 80% mengalami kekecewaan, penolakan, depresi dan kesedihan.  Emosi ibu hamil berubah-ubah kadang gembira dalam beberapa detik bisa menangis tersedu sedu, sedíh tanpa sebab  yang jelas (7). Perubahan fisik dan psikologis yang terjadi pada wanita hamil meningkatkan dependency need, kebutuhan akan perhatian yang lebih besar, keinginan memastikan bahwa bantuan yang dibutuhkan telah tersedia, dan keinginan akan keterlibatan teman dan keluarga. Faktor yang dapat mengurangi kecemasan yang terjadi pada wanita yang akan melahirkan adalah adanya dukungan keluarga  dapat  dari suami, keluarga atau saudara lainnya, orang tua, dan mertua.

4.  Perbedaan dukungan dukungan suami pada masa kehamilan dan persalinan

Dukungan suami pada masa kehamilan dan saat persalinan terdapat perbedaan yang bermakna, dimana kelompok intervensi mendukung sedangkan pada kelompok kontrol tidak mendukung (p < 0,05)

5.  Lama persalinan kala II

Lama persalinan kala II (kala Pengeluaran) kelompok intervensi rata-rata 41,91 menit dan kelompok kontrol 56,55 menit. Pada kelompok intervensi lama persalinan kala II kurang atau sama dengan 60 menit sejumlah 20 orang (90,9 %) sedangkan pada kelompok kontrol 10 orang (45,5 %).

6. Hubungan antara dukungan suami pada masa kehamilan dan persalinan dengan lama kala II (kala pengeluaran)

a. Terdapat hubungan antara dukungan suami pada masa kehamilan dengan lama   persalinan kala II (p < 0,05)

b. Terdapat hubungan antara dukungan suami pada saat persalinan dengan lama persalinan kala II (p < 0,05)

Dukungan persalinan yang dapat dilakukan suami untuk  membantu proses persalinan dengan melakukan stimulasi puting susu memberikan minum pada ibu,  membantu ibu untuk mendapatkan posisi yang nyaman pada saat mengejan, karena hal ini akan membantu kemajuan persalinan, dan mengejan menjadi efektif. Selama menunggu proses persalinan, suami dapat memijat dan membantu mengingatkan cara bernafas saat kontraksi untuk mengurangi rasa sakit.  Kebersamaan ini efektif mengurangi penderitaan istri. Ketika akan bersalin, suami dapat mengangkat kedua tungkai ibu sehingga ibu dapat memegangnya dengan mudah dan tidak perlu membuang-buang energi untuk menariknya sendiri, menyokong kedua bahu ketika ibu mengangkat kepala sementara mengejan dan memberikan aba-aba untuk mengejan (8).

Semakin banyak bukti menunjukan bahwa wanita yang diperhatikan dan dikasihi oleh pasangannya selama hamil akan menunjukan lebih sedikit gejala emosi dan fisik, lebih sedikit komplikasi persalinan, dan lebih mudah melakukan penyesuaian selama masa nifas (9). Dukungan seorang pendamping pada saat persalinan dapat menimbulkan efek positif terhadap hasil persalinan dalam arti dapat menurunkan morbiditas, mengurangi rasa sakit, persalinan yang lebih singkat dan menurunnya persalinan dengan operasi termasuk bedah sesar.

Seorang suami dapat mengurangi stres dan kecemasan  persalinan dan kelahiran. Begitu persalinan tiba, suami dapat duduk di samping istrinya, memperhatikan dan memberi semangat kepadanya.  Dukungan moril dan pengertian dari suami merupakan obat mujarab bagi istri yang sedang berjuang melahirkan buah hati mereka. Suami yang mengetahui beratnya perjuangan sang istri saat hamil dan melahirkan, akan lebih menghormati dan mengerti perasaan istrinya (10).

 

D.  KESIMPULAN DAN SARAN

     KESIMPULAN

1. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok, namun pada

kelompok intervensi terdapat peningkatan pengetahuan setelah diberikan

intervensi.

2.  Ada perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok dalam hal dukungan

kehamilan dan persalinan.

3.  Ada pengaruh pendidikan tentang dukungan suami terhadap istri dalam masa

kehamilan dan persalinan.

4. Ada hubungan antara dukungan suami dalam kehamilan dan persalinan dengan      lamanya kala II.

 

   SARAN

  1. Untuk Klien

Untuk meningkatkan pengetahuan diharapkan para suami istri mendapatkan

informasi tentang kesehatan  melalui berbagai Media dan diskusi dengan teman kerja, selain itu klien juga dapat mengikuti kelas ibu hamil.

  1. Institusi pelayanan

Agar dapat memfasilitasi untuk melibatkan suami misalnya dalam senam hamil dan memberikan informasi kepada suami istri melalui pembentukan kelas ibu.


DAFTAR PUSTAKA

(1)    Paula Ford., Martin., & Elisabeth A. 2007. Memahami Segalanya Tentang

Kehamilan. Tangerang : Karisma Publishing Group

(2)   Anon G, 2003. Hubungan antara pemahaman suami terhadap perannya sebagai                 ayah dengan dukungan yang diberikan pada istri dalam menghadapi kelahiran

anak pertama, Fakultas Psikologi UMS

(3)  Suwarni, 2005. Hubungan antara Dukungan Suami dengan Kestabilan Emosi   dalam Menghadapi Proses Persalinan . Perpus@ums.ac.id

(4)  Nejad V Modarest, 2005, Couple attitudes to the Husband’s presence in the delivery room during Chilbirth, Easten Meditarranean Health Yournal volume 11:4 Iran

(5)  Budi R & Sulistyorini. 2007. Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Kecemasan Ibu Hamil Menghadapi Kelahiran Anak Pertama Pada Masa Triwulan Ketiga.              Indonesian Psychological Journal, Vol 2, 102-111

(6)  Alfiben., Gulardi., & Sylvia. 2000. Efektivitas Peningkatan Dukungan Suami       dalam Menurunkan Terjadinya Depresi Postpartum. Jurnal Obstetri Ginekologi       Fakultas Kedokteran UniversitasIndonesia, vol 24, No 4

(7)  Novaria, A.L, & Budi.2007. Tips CerdasKehamilan, Persiapan Hamil hingga  Menyusui, Yogyakarta : Oryza                          

(8)    Sani, Rahman. 2002. Menuju Kelahiran yang Alami. Jakarta: PT Raja Grafindo

 

(9)  Bobak., Lowdermik., & Jensen. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas.       Jakarta : EGC

(10)  Maulana, Mirza,2008. Panduan lengkap kehamilan. Yogyakarta: Kata Hati

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk mewujudkan kesehatan keluarga yang berkualitas. Pelayanan kebidanan adalah pelayanan yang diberikan oleh bidan sesuai dengan kewenangannya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak di keluarga maupun di masyarakat.

Asuhan kebidanan adalah proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan juga merupakan penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan/masalah dalam bidang kesehatan ibu masa hamil, masa persalinan, nifas, bayi setelah lahir serta keluarga berencana. (Kepmenkes Nomor : 369/MENKES/SK/III/2007 Tanggal : 27 Maret 2007)

Bidan menggunakan Manajemen Asuhan Kebidanan sebagai pendekatan dan kerangka pikir dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengumpulan data, analisa data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, langkah-langkah dalam asuhan tersebut harus dilakukan dengan mengacu pada standar yang telah ditetapkan.

II.  DIAGNOSA KEBIDANAN

 

  1. A.     Diagnosa kebidanan

Dalam Standar Praktik Kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan sesuai dengan lingkup praktik kebidanan dan dalam tanggung jawab maupun tanggung gugat bidan, dirumuskan berdasarkan analisis data yang telah dikumpulkan

Difinisi Operasional

  1. Diagnosa kebidanan dibuat sesuai dengan kesenjangan yang dihadapi oleh klien atau suatu keadaan psikologis yang ada pada tindakan kebidanan sesuai dengan wewenang bidan dan kebutuhan klien.
  2. Diagnosa kebidanan dirumuskan dengan padat, jelas sistimatis mengarah pada asuhan kebidanan yang diperlukan oleh klien.

Dalam Standar Asuhan Kebidanan (lampiran Bab II Kepmenkes

No. 938/Menkes/SK/VIII/2007 : Perumusan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan
1.     Pernyataan Standar

Bidan menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian, menginterpretasikannya secara akurat dan logis untuk menegakkan diagnosa dan masalah kebidanan yang tepat.

2.     Kriteria Perumusan Diagnosa dan atau Masalah
a.  Diagnosa sesuai dengan nomenklatur kebidanan
b.  Masalah dirumuskan sesuai dengan kondisi klien
c.  Dapat diselesaikan dengan asuhan kebidanan secara mandiri, kolaborasi dan

rujukan

B.  Nomenklatur Diagnosa Kebidanan

Nomenklatur Diagnosa Kebidanan adalah suatu sistem nama yang telah terklasifikasikan dan diakui serta disyahkan oleh profesi, digunakan untuk menegakkan diagnosa sehingga memudahkan pengambilan keputusannya. Dalam nomenklatur kebidanan mempunyai standar yang harus dipenuhi

C.  Standar Nomenklatur Diagnosa Kebidanan :
1.   Diakui dan telah disyahkan oleh profesi
2.   Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan
3.   Memiliki ciri khas kebidanan
4.   Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan
5.   Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan
D.  Manajemen Asuhan Kebidanan

Adalah pendekatan dan kerangka pikir yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengumpulan data, analisa data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian tahapan logis, sistematis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien, yang dilakukan dengan tepat, efektif dan efisien.

Sebelum menegakkan diagnosa bidan harus mengumpulkan semua informasi yang akurat dari semua yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data dapat dilakukan dengan cara yaitu anamnesa, pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus dan pemeriksaan penunjang (Varney, 2003 : 31). Langkah ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya, sehingga dalam pendekatan ini harus yang komprehensif meliputi data subjektif, objektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi/masukan klien yang sebenarnya dan valid.

Data dikumpulkan dari

  1. Klien atau pasien keluarga dan sumber lain
  2. Tenaga kesehatan
  3. Individu dalam lingkungan terdekat.

Data diperoleh dengan cara

  1. Wawancara (anamnesa)
  2. Observasi
  3. Pemerikasaan fisik
  4. Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan catatan terbaru serta catatan sebelumnya)

E.   Menginterprestasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa atau masalah

Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa atau masalah yang spesifik. Rumusan diagnosa dan masalah keduanya digunakan karena masalah tidak dapat didefinisikan seperti diagnosa (tidak masuk kriteria nomenklatur diagnosa) tetapi tetap membutuhkan penanganan. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh Bidan sesuai dengan hasil pengkajian, masalah juga sering menyertai diagnosis

F.  Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi       penanganannya

Mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan diharapkan bidan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.langkah ini sangat penting dalam melakukan manajemen kebidanan yang aman. Bidan dituntut untuk mampu mengantipasi masalah potensial tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potensial tidak terjadi. Langkah ini bersifat antisipasi yang logis/rasional.

G.  Diagnosa Banding differential diagnosis (DD/)

Setelah mengumpulkan data yang cukup maka bidan akan mendapatkan beberapa kemungkinan diagnosa sesuai dengan data klinik tersebut. Kemungkinan terbesar disebut diagnosa kerja, sedangkan kemungkinan yang lain disebut diagnosa banding.

A. MCGEHEE HARVEY , 2008. DIAGNOSIS BANDING:BERORIOENTASI PADA KASUS

Rencana asuhan kebidanan dibuat berdasarkan diagnosis kebidanan.

Tindakan Kebidanan dilaksanakan berdasarkan rencana dan perkembangan keadaan klien. Tindakan kebidanan dilanjutkan dengan evaluasi dan keadaan klien.

Contoh diagnosa kebidanan
1) G2 P1 A0, hamil 28 mg dengan kehamilan normal, keadaan  janin mormal

2) G1 P0 A0, hamil 16 mg dengan abortus imminens

3) G2 P1 A0 hamil 37 minggu, Ketuban pecah dini 2 jam, janin Presentasi Bokong

Contoh masalah potensialnya : Infeksi, hipoksia janin

 

Contoh masalah

Kehamilan yang tidak diinginkan, Takut menghadapi persalinan,

 

Contoh diagnosa banding

DD/ pada Plasenta previa adalah Solutio Plasenta, karena saat ibu hamil datang dengan keluhan perdarahan pervaginam kita mulai berfikir apkh plasenta previa atau solutio plasenta, shg kita mengkaji lebih lanjut gejala klinis agar kt mendapatkan diagnosa kerja

Daftar diagnosa nomenklatur kebidanan

1. Persalinan Normal
2. Partus Normal
3. Syok
4. DJJ tidak normal
5. Abortus
6. Solusio Placentae
7. Akut Pyelonephritis
8. Amnionitis
9. Anemia Berat
10. Apendiksitis
11. Atonia Uteri
12. Infeksi Mammae
13. Pembengkakan Mamae
14. Presentasi Bokong
15. Asma Bronchiale
16. Presentasi Dagu
17. Disproporsi Sevalo Pelvik
18. Hipertensi Kronik
19. Koagilopati
20. Presentasi Ganda
21. Cystitis
22. Eklampsia
23. Kelainan Ektopik
24. Ensephalitis
25. Epilepsi
26. Hidramnion
27. Presentasi Muka
28. Persalinan Semu
29. Kematian Janin
30. Hemorargik Antepartum
31. Hemorargik Postpartum
32. Gagal Jantung
33. Inertia Uteri
34. Infeksi Luka
35. Invertio Uteri
36. Bayi Besar
37. Malaria Berat Dengan Komplikasi
38. Malaria Ringan Dengan Komplikasi
39. Mekonium
40. Meningitis
41. Metritis
42. Migrain
43. Kehamilan Mola
44. Kehamilan Ganda
45. Partus Macet
46. Posisi Occiput Posterior
47. Posisi Occiput Melintang
48. Kista Ovarium
49. Abses Pelvix
50. Peritonitis
51. Placenta Previa
52. Pneumonia
53. Pre-Eklampsia Ringan/Berat
54. Hipertensi Karena Kehamilan
55. Ketuban Pecah Dini
56. Partus Prematurus
57. Prolapsus Tali Pusat
58. Partus Fase Laten LAma
59. Partus Kala II Lama
60. Sisa Plasenta
61. Retensio Plasenta
62. Ruptura Uteri
63. Bekas Luka Uteri
64. Presentase Bahu
65. Distosia Bahu
66. Robekan Serviks dan Vagina
67. Tetanus
68. Letak Lintang

Rujukan :
WHO, UNFPA, UNICEF, World Bank (2000) I M P A C (Intergrated Management of Pregnancy And Chilbirth), Managing Complications in Pregnancy and Childbirth : A Guide for Midwives and dovtor, Departement of Reproductive Health and Research.

nomenklatur diagnosa kebidanan

May our love will be forever..